Opini

Basmi Politik Adu Domba!

Ahad 1 Rabiulawal 1434 / 13 Januari 2013 11:16

 

Adu Domba by bedegonks 268x300 Basmi Politik Adu Domba!JAUH-jauh hari, berabad-abad yang lalu, Rasulullah SAW dalam hadisnya mengabarkan bahwa Islam pada awal kemunculannya terasing dan akan kembali menjadi asing. Dari Abu Hurairah ra.: Rasulullah Saw bersabda: “Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut.” (HR. Muslim).

Dunia telah berbalik, orang yang ingin menegakkan kalimah (agama) Allah dianggap pembawa ajaran baru, sesat, sesat dan bahkan dikatakan tidak nyunnah alias tidak mencontoh Rasulullah SAW. Orang-orang yang berjuang menegakkan syariah dan khilafah sengaja diberi gelar ekstremis, fundamentalis dan teroris. Lebih jauh lagi fitnah keji bahwa orang-orang yang ingin menegakkan syariah dan khilafah dapat mengancam intergrasi dan keutuhan bangsa Indonesia.

Kita dapat rasakan pada awal-awal ketika mengenalkan ide syariah dan khilafah kepada umat. Mereka nyaris merasa asing pada ajarannya sendiri. Terlebih lagi hal tersebut memang sengaja didesain oleh orang kafir yang tidak suka jika Islam kembali berjaya memimpin dunia. Mereka sengaja melakukan konspirasi dan makar dengan biaya yang tidak sedikit agar Umat Islam jauh dari ruh ajarannya. Mereka sadar betul jika Umat Islam dan ajarannya melekat akan menggulung eksistensi mereka. Jika umat Islam dan ajarannya tidak terpisahkan, maka dunia akan berpihak kepada kebenaran dan keadilan. Dan tentu saja mereka tidak menginginkan itu karena itu merupakan ancaman bagi mereka.

Dakwah terus berjalan. Fase demi fase telah dilalui. Perjuangan penegakan khilafah terus bergulir. Perlahan tapi pasti kata ‘syariah’ dan ‘khilafah’ mulai dikenal lagi di kalangan umat. Bukan usaha yang mudah untuk mewujudkan itu semua. Perlu effort yang luar biasa. Apalagi upaya untuk mengembalikan khilafah ke pangkuan umat Islam tarafnya bersifat internasional, bukan lokal Indonesia, Malaysia, Palestina, atau negeri-negeri muslim tertentu. Berbagai event pun digelar, mulai dari konferensi khilafah internasional, konferensi menyatukan para tokoh, pengusaha, intelektual, mahasiswa, dan semua lapisan umat Islam agar bersama-sama bergerak menegakkan khilafah.

Umat Islam di seluruh dunia mulai terbuka hati dan pikirannya. Pun jua dengan umat Islam di Indonesia. Maka dukungan dari berbagai kalangan terus meningkat. Para ulama, pengusaha, mahasiswa, pelajar bergerak serentak memperjuangkan kembali berdirinya ‘rumah’ (baca: khilafah) mereka yang kokoh yang bisa melindungi mereka dari ancaman dan serangan musuh-musuhnya.

Menyaksikan semakin kuat dan besarnya opini syariah dan khilafah, dan makin meningkatnya dukungan dari berbagai kalangan, kafir Barat menderita penyakit paranoid sekaligus fobia. Mereka berusaha membendung usaha penegakan khilafah dengan melancarkan politik adu domba alias politik belah bambu di setiap penjuru negeri kaum muslimin. Mereka tidak akan diam begitu saja ketika negeri-negeri kaum muslimin bersatu. Karena itu mereka semakin memperkokoh virus nasionalisme dan demokrasi di negeri-negeri Islam, sehingga dengan virus menyakitkan itu negeri-negeri kaum muslimin sulit untuk disatukan.

Selain itu, Cheryl Benard dari Rand Corporation merekomendasikan dalam tulisannya, Civil Democratic Silam, Parters, and Strategis, langkah untuk mengadu domba umat Islam adalah dengan mengelompokkannya menjadi 4 tipe, yaitu kelompok fundamentalis, tradisionalis, modernis, dan sekular. Langkah ini sebetulnya sudah usang, persis dahulu di zaman penjajahan Indonesia dengan mengelompokkan kaum modern dengan kaum tradisionalis (kaum sarungan), dan abangan. Dengan pengelompokkan ini, kemudian mereka melancarkan dukungan kepada satu pihak dan menjatuhkan kelompok lain, serta membenturkan antarkelompok. Kelompok modernis mereka dukung agar bisa mengungguli kelompok tradisionalis.

Kelompok tradisionalis didukung sebatas kepentingan agar mereka berseteru dengan kelompok fundamentalis. Pun juga mereka mendukung penuh kelompok sekular secara kasus perkasus guna membendung gerak kelompok fundamentalis. Sementara kelompok fundamentalis nyaris mereka musuhi dengan membuat image mereka negatif melalui media. Dengan begitu jelas kita bisa rasakan upaya penegakan syariah dan khilafah terganjal karena bukan saja ditentang oleh Barat, melainkan dihadang oleh kelompok umat Islam sendiri yang seharusnya bahu membahu memperjuangkannya.

Bagaimanakah menghadapi politik adu domba yang makin gencar dilakukan oleh kafir barat? Bukan yang hal mudah untuk menghadapinya. Jika mereka menyerang secara profesional, maka akan terasa fair dan berimbang jika kita pun menghadapinya dengan strategi yang cerdik. Sebetulnya kita punya modal yang harus kita wujudkan untuk menghadapi musuh-musuh Islam. Bukankah diperintahkan untuk menjalin ukhuwah dan persatuan. Bukankah Allah dan Rasul-Nya mendudukkan masalah persatuan sebagai suatu hal yang wajib bagi umat Islam. Dengan kata lain, jika kita mengabaikan persatuan, berarti kita telah menentang perintah Allah dan siap menerima kekalahan dengan rela diobok-obok pihak asing.

Persatuan adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar. Persatuan adalah harga mati yang harus tetap dijaga agar umat Islam kembali menang dan menjadi ‘umat terbaik’ seperti yang dikabarkan Allah. Firman Allah:“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”(QS.Ali Imran [003]: 110)

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS: Ali Imran [003]:103)

Karena itu, untuk menghadang politik adu domba kaum kafir sudah selayaknya kita merapatkan barisan dengan melakukan berbagai upaya agar barisan umat Islam tetap solid. Pertama, secara individu, terus melakukan kontak dakwah sehingga dalam kontak akan terjalin kedekatan dan berupaya melakuan persamaan paradigma. Pertemuan yang intens akan membuat individu saling mengenal satu sama lain sehingga pemberitaan stereotif di media yang dalam realitasnya tidak seperti itu dengan mudah dapat ditangkal. Dengan kontak yang menggunakan komunikasi simpatik, kita akan menemukan bahwa kita memiliki banyak persamaan dan perjuangan dengan individu dan tokoh yang kita kontak.

Kedua, secara kelompok/jama’ah jalinlah silaturrahmi dengan berbagai majlis ta’lim, DKM Masjid, pesantren, dan ormas Islam lain. Dengan melakukan upaya kedua ini, kelompok penegak khilafah akan makin dekat dengan elemen umat. Beban dan kewajiban dakwah pun akan dipikul bersama kelompok, ormasi dan jama’ah lain, sehingga akan makin banyak kelompok yang sama-sama berjuang untuk penegakkan khilafah.

Ketiga, serangan politik adu domba seharusnya menjadi cambuk bagi kita agar kita tidak ragu lagi dalam memperjuangkan syariah. Inilah yang menjadi kunci utama yang makin menguatkan perjuangan. Bahwa penegakan khilafah bukan ide yang utopis, karena pada faktanya ketika baru didengungkan saja sudah banyak upaya untuk menjegalnya. Inilah yang harus menjadi titik balik kesadaran kita sebagai aktivis dakwah, bahwa perjuangan ini adalah perjuangan yang nyata.

Hal Ini pun harus menjadi titik balik bagi individu yang masih meragukannya. Jika masih ragu pada ide khilafah, mengapa orang kafir begitu takut? Di manakah komitmen iman dan Islam kita jika masih demikian? Serangan politik adu domba ini seharusnya mencambuk kita agar kita tidak pernah lagi terkotak-kota dalam kelompok dan warna bendera. Sudah seharusnya kita junjung tinggi ukhuwah dalam ikatan tali Allah yang begitu kukuh dan tak pernah rapuh. Wallahu a’lam bishshawaab. []

Redaktur: Saad Saefullah



Peluang