Dunia

Baru Mulai Perang, Pilot Perancis Sudah Tewas Di Tangan Mujahidin Mali

Ahad 1 Rabiulawal 1434 / 13 Januari 2013 11:24

ansar-dine

DALAM waktu kurang dari 24 jam, Perancis telah melancarkan dua serangan terhadap kelompok Mujahidin di Afrika Timur dan Barat, tetapi korban pertama jatuh justru di pihak Perancis. Pada konferensi pers di Paris kemarin Menteri Pertahanan Jean-Yves Le Drian mengumumkan tewasnya seorang pilot helikopter Perancis dalam operasi menyerang Mujahidin di Mali selatan.

Le Drian membela aksi militer Perancis di Mali, dan menuding, keberadaan Mujahidin di negara Afrika Barat itu mengancam keamanan bukan hanya di kawasan itu, tetapi juga Eropa. Seperti Presiden François Hollande, yang mengumumkan campur tangan militer itu hari Jumat, ia mengatakan, operasi itu akan terus dilancarkan selama dibutuhkan.

Le Drian mengatakan, campur tangan militer itu dilancarkan atas permintaan pemerintah Mali dan negara-negara Afrika lainnya, setelah adanya laporan intelijen bahwa tiga kelompok Mujahidin sedang bersiap-siap melancarkan serangan besar-besaran di Mali selatan. Selain memukul mundur kelompok Mujahidin, ia mengatakan, Perancis juga punya tujuan mengamankan stabilitas Mali dan melindungi warga Perancis dan Eropa di sana.

Le Drian mengatakan satu tentara Perancis tewas dan lainnya hilang dalam operasi militer terpisah di Somalia, yang gagal menyelamatkan warga Perancis yang sudah disandera tiga tahun di sana.  Namun, menurut kelompok mujahidin al-Shabab di Somalia, sandera itu masih hidup dan ditawan mereka.

Serangan Perancis itu menunjukkan kebalikan kebijakan awal Hollande untuk mendukung Mali dalam bidang pelatihan dan logistik, bukan untuk melakukan campur tangan secara militer di bekas koloninya itu.

Dalam wawancara dengan saluran televisi France 24, anggota Mujahidin Anshoruddin mengancam akan melakukan tindakan balasan terhadap Perancis.

Namun tindakan pemerintah Perancis  di Afrika itu telah menarik dukungan darisekutunya di Eropa. Dalam pesan di Twitter, Menteri Luar Negeri Inggris William Hague memuji aksi itu, seperti halnya mantan menteri Senegal dan kepala lembaga think tank Cheik Tidiane Gadio.

Gadio mengatakan kepada radio RFI, Perancis tidak bertindak seperti bekas kekuasaan kolonial, tetapi mengklaim sebagai pembela HAM di negara di mana kelompok Mujahidin berupaya mengambil alih kekuasaan.

Pendahulu Hollande, Nicolas Sarkozy, juga campur tangan secara militer di Afrika Barat, melancarkan serangan udara di Pantai Gading tahun 2011 untuk membantu mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama di sana. (Pz/Islampos)

Redaktur: Rayhan