Laporan Khusus

Bara Di Afghanistan & Obsesi Bush-Blair (3 – Habis)

Selasa 4 Rejab 1434 / 14 Mei 2013 17:25

Taliban-fighters-in-the-d-032

“BARANGKALI kekuatan militer pe merintah dan asing tak bakalan menghentikan Taliban. Enam bulan terakhir Taliban semakin berkembang luas, dan terus melakukan serangan terhadap basis militer pemerintah dan Nato,” ujar Gul Habib, yang berasal dari suku Pashtun.

“Saya tak setuju bahwa Taliban itu kuat. Tapi, pe-merintah Karzai yang dari ke hari terus melemah,” tambah Mohamad Zamin Azimi, yang tinggal di Gazni. Pertempuran terus menghebat, memasuki musim dingin, yang bakal semakin ramai, yang terjadi di Afghanistan. Kekawatiran terhadap Taliban ini, seperti kemukakan Presiden Paksitan Parvez Muzharaf, ketika berkunjung ke London, mengatakan, justru yang menjadi ancaman serius sekarang ini bukan Al-Qaida, tapi Taliban. Karena, gerakan Taliban sekarang telah menyatu dengan rakyat. Belum lagi, penduduk Pakistan yang berada di sepanjang perbatasan dengan Afghanistan, yang masih satu suku, Pashtun, sekarang mengalir bagaikan air bah menuju ke Afghanistan, ikut bertempur melawan tentara pendudukan Nato.

Seperti yang dituturkan Abdullah (52) imam sebuah masjid di Kabul, menyatakan :”Hanya ada satu kata, perang .. perang melawan pemerintah boneka (Karzai) dan tentara pendudukan yang menjajah Afghanistan,” ujarnya. Imam masjid di Kabul ini, tak hanya sendirian bersikap yang menentang tentara pendudukan, tapi para ulama dan para pemimpin suku juga mempunyai sikap yang sama. Jika berkunjung ke Kandahar sepanjang jalan hanya melihat kuburan. Jalan bebas hambatan (highway) hanya memperlihatkan kesedihan melihat begitu banyak tanda batu nisan, yang menggambarkan betapa banyak kematian rakyat Afghanistan. Mereka mati akibat bom, rudal, missil, yang dimuntahkan pasukan koalisi yang dipimpin Nato. Tapi, batu-batu nisan yang berjajar disepanjang jalan ‘highway’, seperti masih belum cukup bagi pasukan Nato, dan terus ingin menciptakan kamatian bagi rakyat Afghanistan. Mungkin yang ada dalam kuburan itu, orang tua, anak-anak, wanita, dan siapa saja, yang sebenarnya dapat mengingatkan pemerintah Afghansitan, agar mereka mengerti bahwa mereka sedang menuju perang dengan rakyat.

“Beberapa kilometer saya berjalan bertemu dengan Taliban, tak lama kemudian terdengar suara dentuman senjata, yang dimuntahkan dari helikopter, dan perang tak terelakkan,” ujar Najma Rahimi. Rahimi adalah guru, yang mengajar sebuah sekolah di Kandahar, dan kini ia kehilangan pekerjaan, karena sekolah yang menjadi tempat mengajar telah hancur akibat bom yang dimuntahkan pasukan Nato.Di Kandahar segalanya telah berubah. Meskipun, pasukan Nato berada di kota ini, tapi tetap saja kendali berada di tangan Taliban. Wanita, tak boleh keluar rumah, kecuali dengan muhrimnya. Wanita tak boleh bekerja, dan yang bekerja hanya laki-laki. Sampai yang berbelanja di pasar pun juga laki-laki. Tapi, kehidupan propinsi Kandahar relatif lebih tenang, tak ada kekisruhan, kecuali serangan militer yang dilakukan pasukan Nato.

taliban

Suasananya memang terasa sangat aneh. Justru rakyat mengharapkan berkuasanya kembali Taliban. Mereka menginginkan kembali Mollah Omar berkuasa, dan memimpin Afghanistan. “Kami lebih merasa damai dan tenang, ketika peme- rintahan dipimpin Mollah Omar”, Abdul Mobin, yang bergabung dengan Taliban, tahun l994. “Taliban adalah pejuang yang tujuan hanya untuk berperang melawan penjajah”, tam- bah Abdul Mobin. Pejuang muda Taliban ini menambahkan, kami tak dapat mengatakan Taliban itu kuat atau lemah, tapi kami yakin tak ada satupun kekuatan yang dapat mengalahkan dan menghancurkan mereka. Biar seluruh kekuatan asing berkumpul di Afghanistan, kami yakin mereka (orang kafir) itu, tak bakal dapat mengalahkan. Karena, hal itu telah tertulis di dalam al-Quran,” tegas Abdul Mobin.

Kenyataan yang ada di Afghanistan persis yang digambarkan oleh Parvez Musharaf, di mana pasukan Nato, sekarang ini menghadapi perlawanan rakyat. Bukan, menghadapi Taliban, karena rakyat telah menyatu dengan Taliban. Juru bicara Taliban, Qari Yusuf, menyatakan menegaskan, bahwa pejuang Taliban akan meningkatkan serangannya ke basis militer Nato dan pemerintah. Menurut Qari para penjajah harus segera angkat kaki dari Afghanistan. Tak ada lagi penjajah yang berhak menginjakkan kakinya di negeri ini, tambahnya. Menurut laporan yang dapat dipercaya, Taliban berhasil membebaskan wilayah Selatan, yang sebelumnya dikuasai pemerintah.Termasuk propinsi Helmand. Di wilayah-wilaya lainnya, kini terus berlangsung pertempuran yang sengit, memperebutkan wilayah- wilayah, yang menjadi basis Taliban. Pertempuran antara pejuang Taliban dengan pasukan Nato.

Di bagian lain, Taliban terus membangun kerjasama dengan berbagai kekuatan politik dan militer di Afghanistan, termasuk dengan pemimpin Hizb-I-Islami, Gulbuddin Hekmatyar, yang kini duduk sebagai Ketua Dewan Perjuangan untuk Membebaskan Afghanistan. Kontak- kontak yang dibangun para Taliban, nampaknya dapat mengkonsolidasikan kekuatan-kekuatan perjuangan yang di negeri itu. Termasuk yang berada di wilayah Utara, yang selama ini, menolak untuk melakukan kerjasama. Taliban juga m encapai kesepakatan dengan sejumlah pemimpin di Utara, yang mayoritas suku Tajik, yang akan dilibatkan dalam pemerintahan yang akan datang pasca Hamid Karzai.

Taliban fighters7

Gulbuddin Hekmatyar, Burhanuddin Rabbani, dan Abdur Rabbi Rasul Sayyaf, memberikan kesediaannya untuk bekerjasama dengan pihak Taliban, yang bertujuan membebaskan negeri itu dari penjajahan. “Kami telah membebaskan Afgha-nistan dari tangan kotor Soviet, dan tidak lama lagi, kami akan membebaskan Afghanistan dari penjajah Barat. Dan tidak boleh lagi Afghanistan dikotori oleh tangan orang-orang kafir,” ujar Sayyaf.

Jika rakyat Afghanistan dan para pemimpinnya dapat bersatu mensikapi penjajahan yang dilakukan Amerika dan sekutu-kutunya, maka tidak akan lama lagi, negeri ini akan terbebas dari penjajahan. Mereka adalah bangsa yang tidak pernah terjajah. Dan, mereka akan memenangkan peperangan untuk mengusir penjajah Barat, yang kini bercokol dibumi Afghanistan. Wilayah ini tidak pernah akan memberi rasa damai bagi para penjajah. Wallahu’alam. [mashadi/islampos]

HABIS

 

Redaktur: Saad Saefullah