Laporan Khusus

Bara Di Afghanistan & Obsesi Bush-Blair (2)

Selasa 4 Rejab 1434 / 14 Mei 2013 17:16

BushAndKarzaiAtWH

TAK banyak kemajuan yang dicapai pasukan Nato, sejak tragedi di mulai, 7 Oktober, 2001. Serangan yang dahsyat yang dilakukan Amerika itu, tak lama sesudah peristiwa 11 Sep-tember 2001, dan langsung Presiden Bush memerintahkan Menhan Donald Rumsfeld menggebuk Afghanistan. Karena Bush yakin yang melakukan serangan ke gedung WTC adalah kelompok al-Qaida, yang sekarang bersarang di Afghanistan. Serangan yang brutal dan biadab itu diabadikan CNN. Beberapa tentara koalisi na pak bertarung secara brutal dengan para pejuang Taliban, dan sebagian besar korban, seperti yang gambar yang ditayangkan CNN adalah orangl-orang sipil. Banyak korban yang bergelatakkan di jalan-jalan, yang umumnya wanita dan anak-anak di kota Kabul. Tentu, bagi Amerika dan Sekutunya gambar itu, bakal tak pernah akan hilang dari ingatan mereka. Betapa tentara sekutu yang dipimpin AS, sangatlah kejam dan biadab, membantai orang-orang sipil, yang tak berdosa.

Presiden dan anggota parlemen telah terpilih melalui pemilihan umum. Tentu, ini menjadi kebang-gaan Gedung Putih. Merasa missi yang diemban nya di Afghanistan berhasil. Demokrasi tumbuh dan berjalan. Rakyat telah memilih pemimpin dan wakil mereka di par-lemen, yang menjadi simbol proses demokrasi yang sekarang digerakkan Amerika berjalan mulus. Tapi, konflik semakin menyeruak di seluruh kawasan Afghanistan. Perlawanan semakin dari Taliban menghebat, dan terjadi di seluruh kawasan Afghanistan. Seakan rakyat bangkit melawan tentara pendudukan yang bernama, pasukan koalisi Nato. Mungkin, Bush dan Tony Blair, tiba-tiba menjadi terbelalak matanya, ketika melihat pertempuran berlangsung di seluruh kawasan Afghanistan. Hampir setiap hari serangan bom mobildan bom bunuh diri, terus menyerang pasukan Nato.

“Semua tentara dari berbagai belahan dunia telah tumplek blek di negeri ini. Apa yang mereka kerjakan? Mereka tidak menolong kita”, tegas Kaka Tadjuddin, yang berbicara di rumah di pinggiran lembah Pansjir. Ketika, tank-tank mengililingi seluruh Afghanistan, dan memuntahkan senjata artilerinya, tanpa henti-henti, Kaka membunuh seorang komandan pasukan Soviet, yang berada di Panssjir. Kaka Tadjuddin adalah saudara sepupu dari panglima perang, yang mendapat julukan ‘Singa’ lembah Pansjir, Ahmad Shah Masoud, dan kini hidup di lembah, yang terus menyalakan bara perang. Senjata yang saya gunakan membunuh komandan tentara Soviet, masih saya simpan di rumah dengan baik.”Menurut pendapat anda, apakah saya membunuh Karzai atau Bush”, ujar Kaka. Sebelumnya, Kaka Tadjuddin menjadi panglima perang di Pansjir, ketika Taliban menguasai Kabul. Ia memimpin Alian- si Utara, yang mayoritas berasal suku Tajik. Sekarang, Kaka berubah pendirian musuhnya bukan lagi Taliban, tapi pasukan pendudukan Nato, yang ia nilai sama kejahatan sama dengan Soviet.

afghan-soldiers-sit-alongside-us-soldiers-during-a-pre-patrol-briefing-in-afghanistan-on-june-26

“Lima tahun Hamid Karzai duduk di kursi presiden, tetapi selama ia menduduki jabatan presiden tak ada bangunan baru, yang dihasilkan Karzai. Di mana-mana hanya ke-gersangan dan padang pasir. Ekonomi semakin ambruk. Rakyat semakin banyak yang miskin, dan tidak memiliki pekerjaan. Rumah-rumah penduduk tak ada penerangan listrik. Gelap. Mereka hidup dalam kondisi papa”, tegas Kaka Tadjuddin ketika itu. “Pergilah ke Kabul, dan perhatikan sekeliling kota. Apakah anda akan melihat bangunan jalan baru? Tidak. Di mana hanya pasir dan tanah.Tak ada taman tempat main untuk anak-anak. Tapi, anehnya setiap pejabat pemerintah, mengatakan investasi telah masuk ke Afghanistan milyaran dolar. Di mana uang itu?” tegasnya.

Kekecewaan Kaka tak sendirian. Apa yang ia katakan merupakan gambaran yang umum, yang sama dirasakan seluruh rakyat Afghanistan. Janji dari pemerintahan Barat, yang akan memperbaiki ekonomi Afghanistan, dan akan melakukan pembangunan sampai hari ini, tak pernah ada. Semua nya janji kosong, dan yang terjadi dari hari ke hari, hanya lah kematian, tak habis-habis. Entah berapa banyak rakyat Afghanistan yang akan dibunuh oleh pasukan

Nato, sebagai alasan mengejar dan membasmi ‘teroris.’ Kecenderungan baru yang sekarang ini terjadi adalah pasukan Nato, tak dapat lagi mem- bedakan mana yang Taliban, dan mana yang rakyat biasa. Sehingga, tindakan militer yang dilakukan pa- sukan Nato, seringkali yang menjadi sasaran adalah rakyat sipil.

Akibat tindakan yang dilakukan pasukan Nato, rakyat sekarang bahu membahu dengan Taliban. Mereka tidak dapat lagi menerima cekokan ‘opini’ yang dibangun pemerintahan Karzai atau propaganda Barat, bahwa Taliban itu berbaya, dan mengancam keamanan mereka. Justru yang jelas- jelas setiap hari membunuhi rakyat adalah pasukan pemerintah Karzai dan Nato. Rakyat selalu menyaksikan deru pesawat tempur, yang meraung- raung meninggalkan bandara militer di utara Kabul menuju ke Selatan, dan wilayah-wilayah yang basis kekuatan Taliban.

US-troops-set-out-on-a-pa-001

Rakyat juga melihat iring-iringan pasukan Nato, yang jumlah nya ribuan bergerak dengan dukungan heli dan artileri, yang terus mencari pe- juang Taliban. Mereka menjadi yakin, bahwa sekarang Afghanistan sedang dijajah kembali oleh asing, Nato. Di Gazni wilayah yang aman. Tak ada pembrontakan yang dilakukan oleh Taliban. Sekarang ini, di Gazni bagaikan gunung berapi, yang bergolak, dan pembrontakan terus meningkat, melawan tentara pemerintah maupun pendudukan Nato.

Afghanistan tak dapat dilepaskan dari ikatan suku. Mayoritas Afghanistan 85% penduduk negeri itu berasal dari suku Pashtun. Suku yang memiliki kebanggaan perang. Dan, wilayah ini tak pernah terjajah. Sepanjang sejarahnya, suku Pashtun selalu dapat mengalahkan mereka yang ingin menjajah negeri mereka. Inggris pernah berusaha menjajah Afghanistan, dan pasukannya dibantai habis, di terowongan Salang Pass, dan itu dialami pula oleh pasukan Soviet. Perang sepertinya menjadi ‘ideologi’ mereka. Berapapun yang mati dalam perang, bagi rakyat Afghanistan, tak menjadi masalah. Mereka akan terus berperang dengan siapapun yang ingin coba-coba menjajah negeri mereka. Rakyat Afghanistan akan bersatu menghadapi kaum penjajah dengan gagah berani. Selain itu, mereka yang berasal suku Pashtun, memiliki keterikatan dengan agama mereka yaitu Islam sangatlah kuat. Dan, mereka penganut madzab Sunni. Mungkin, gambaran ini yang tak pernah dipahami oleh orang-orang Barat, yang sekarang ini berpetualang di Afghanistan. [mashadi/islampos]

BERSAMBUNG

 

Redaktur: Saad Saefullah