Miracle of Quran

Al-Qur’an Di Balik Teka-teki Lahirnya Ilmu Sains Modern (1)

Sabtu 11 Zulhijjah 1433 / 27 October 2012 14:33

DAMPAK dari perkembangan sains modern memang menakjubkan. Sains modern telah mengubah cara manusia dalam menjalani hidup, berkomunikasi, melahirkan anak, memproduksi bahan makanan, pakaian, dan perumahan serta dalam menjalani berbagai kegiatan rutin dalam kehidupannya sehari-hari.

Walau Diakui atau tidak, sains modern lahir dan berkembang di dunia Barat, namun keberadaan sains modern telah diakui secara mendunia dan sains modern telah hidup dan menguasai semua lini kehidupan dalam berbagai budaya, seperti budaya Hindu, Cina dan budaya bangsa-bangsa di belahan dunia lainnya, termasuk di dalamnya budaya Islam yang juga turut serta berpartisipasi dengan penuh gairah dalam mengkonsumsi hasil perkembangan sains modern.

Dewasa ini sains modern dan turunannya, teknologi, telah dieksplorasi oleh semua budaya masyarakat di seluruh dunia. Sains modern mampu menggantikan semua cara lain dalam mengeksplorasi dan menggali potensi alam, setidak-tidaknya dalam pengertian praktisnya.

Dalam sejarah sains, semua capaian sains modern saat ini, berawal dari berbagai pertanyaan manusia tentang misteri alam semesta; kemegahan langit malam, terjadinya siang dan malam serta berbagai fenomena alam, telah memunculkan berbagai pertanyaan: mengapa ada alam semesta ini? Mengapa alam semesta seperti ini? Kapan ia berawal dan akankah berakhir? Berbagai instrumen telah dicoba guna mengetahui asal mula, keberadaan serta kemungkinan kehancuran alam semesta. Hal ini telah dilakukan oleh manusia sejak dahulu kala, yaitu dengan mengkaji gerakan-gerakan bintang di langit yang disebut dengan ilmu astronomi dan merumuskan berbagai teori tentang alam semesta yang kemudian dikenal dengan kosmologi, yang pada gilirannya nanti keduanya menjadi cabang dari sains modern yang khusus mengkaji tentang ilmu perbintangan dan asal asul alam semesta.

Meski demikian, segala penemuan sains modern membutuhkan sebuah perenungan religius dalam konteks kehidupan beragama. Karena bagaimanapun, meski penemuan sains modern bebas nilai serta tidak terikat dengan agama manapun, akan tetapi ia tidak akan bisa lari dan akan tetap bersinggungan dengan kehidupan keagamaan, paling tidak dengan manusia yang beragama. Proses ini memang telah terjadi di Barat yang banyak dilakukan oleh jajaran teolog dari semua madzhab―dalam agama Kristen―dan para filosof serta saintis terkemuka guna merenungkan implikasi penemuan ilmiah atas iman mereka.

Pada abad ke-20 konflik hubungan sains dan agama menjadi sebuah kajian yang tak pernah tuntas dibahas. Selama 40 tahun terakhir, minat kuat dalam hubungan sains dan agama telah menghasilkan banyak tanggapan dan interaksi kesarjanaan yang berusaha menjembatani sains dan teologi Kristen. Salah satu inti permasalahan yang kemudian membawa pada konflik yang berkepanjangan adalah masalah penciptaan dan model alam semesta yang diajukan oleh kosmologi modern.

Seperti Gagasan umum di abad ke-19  yang diusung oleh kaum Materialisme seperti Karl Marx dan Friedrich, yang mengatakan bahwa alam semesta merupakan kumpulan materi berukuran tak hingga yang telah ada sejak dulu kala, tidak berawal dan akan terus ada selamanya. Selain meletakkan dasar berpijak bagi paham materialis, pandangan ini menolak keberadaan sang Pencipta dan menyatakan bahwa alam semesta tidak berawal dan tidak berkhir.

Kalau dicermati dari awal lahirnya kosmologi hingga pada kosmologi modern, kita akan melihat bahwa keberadaan Tuhan benar-benar menjadi sebuah permainan oleh mereka. Selain Karl Marx dan Friedrich, lihatlah apa yang dilakukan Copernicus, Kepler, Galileo dan Newton.

Hal inilah yang kemudian selalu menjadi kajian yang tak pernah tuntas dibahas, dan menjadi konflik berkepanjangan antara kaum materialisme yang tetap bersikukuh bahwa tidak ada campur tangan Tuhan di alam semesta.

Lalu bagaimana hubungan sains modern dengan agama Islam dalam Al-Qur’an? Bersambung…

 

www.kosmologimodern.blogspot.com

Redaktur: Ratna



Peluang