Opini

Al-Ma’un Versus UUD ’45

Rabu 14 Syaaban 1433 / 4 Juli 2012 05:32

MENGAPA orang miskin dan anak-anak terlantar tumbuh subur di Indonesia? Benarkah tebaran pengemis menggambarkan jelas kualitas kekhalifahan di negeri ini—negeri kaya yang dililit amanat UUD 45 yang gagal dilaksanakan.

Kita sudah terbiasanya melihat pengemis dimana-mana, di dekat istana, di dekat real estate, di pasar, dan di banyak persimpangan jalan. Dan benarkah itu adalah indikator telah gagalnya petinggi-petinggi di negara kita?

Kalau UUD 45 menyemangati melalui: orang miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara, maka buah dari 66 tahun merdeka negeri ini adalah 35 juta anak bangsa yang tergolong miskin adalah santapan berita setiap hari.

Dan masih ada hubungannya dengan kemiskinan. Dalam ayat Al-Qur’an yang Allah swt jelaskan dalam QS. Al-Maun, yakni “Pendusta agama adalah mereka yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.”

Pendusta agama? kaum Dhuafa’ ? Sungguh, kita berbicara antara pendusta dan orang miskin yang disantuni, dua hal yang sangat jelas bukan?

Lucunya, dalam UUD 45 kata dipelihara oleh negara dipelintir menjadi “membiarkan” kemiskinan, sehingga orang miskin dan anak-anak terlantar dipelihara (dipelihara keterlantarannya, dipelihara biar miskin terus), seperti kita katakan : ayam dipelihara maka ayamnya makin banyak, maka orang miskin dipelihara maka orang miskinnya masih banyak.

Kalau memang Negara (atau Pemerintah) memenuhi amanat UUD 45, dan jika pemimpin negara tahu benar tentang amanat UUD 45 dan QS. Al-Maun, maka tentulah akan tercermin dari APBD, APBN berapa persen amanat itu dilaksanakan.

Namun betapa mirisnya melihat kaum miskin dan saudara-saudara kita yang terlantar, betapa tipisnya pula keinginan pemerintah untuk memberantas kemiskinan dan tidak memelihara orang miskin dan terlantar yang tetap pada keterlantarannya dan tetap pada kemiskinanannya.

Masyarakat, sesungguhnya hanya seperti sekumpulan domba, dan eksekutif yang amanat lah yang akan melahirkan masyarakat yang juga amanat.

Agorsiloku, Bandung, Jawa-Barat

Redaktur: Ratna



Peluang